“Gomen,
kita sampai di sini saja” Arai menatap wajah Rei.
“Sampai
di sini? Maksudnya kamu tidak mengantarku sampai ke rumah seperti biasa?” tanya
Rei.
“Bukan
, maksud aku hubungan kita sampai di sini saja” jawab Arai.
“Kamu
mau kita pu..putus?” tanya Rei ragu – ragu. Arai menggangguk.
“Eeh,,
nande? Kenapa kamu ingin putus? A..apa aku melakukan kesalahan?” Rei bertanya
terbata – bata, air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Tidak,
aku hanya sudah tidak bisa sama kamu lagi” jawab Arai.
“Arai
kamu bercanda kan? Kenapa tiba – tiba begini? Uso desyo?” kini air mata telah
mengalir di wajah Rei.
“Usojanai,
gomen Rei” Arai melepaskan tangan Rei dan pergi meninggalkan Rei yang termangu
menatap kepergian Arai dengan hati yang terluka.
***
Sudah
dua hari Rei tidak keluar kamar, dia masih tidak percaya kalau Arai tiba – tiba
saja memutuskan hubungan mereka. Dua tahun mereka berpacaran dan tidak pernah
ada masalah . Rei berusaha menghubungi Arai tapi telponnya tidak pernah
diangkat, pesannya tidak pernah dibalas. Rei benar – benar tidak tahu harus
bagaimana, dia sangat mencintai Arai dan dia yakin kalau Arai juga memiliki
perasaan yang sama.
Dua
tahun yang lalu Arai menyatakan perasaannya kepada Rei dan merekapun akhirnya
berpacaran. Arai selalu bersikap baik dan menjaga Rei. Selalu mengalah pada
Rei, tidak pernah sekalipun mengingkari janji. Setelah dua tahun yang penuh
kebahagiaan kenapa sekarang Arai memutuskan kalau mereka tidak bisa bersama
lagi. Kemana cinta itu pergi? Apakah cinta memang semudah itu hilang? Apakah ada
perempuan lain? Beribu pertanyaan berkecamuk di benak Rei.
Hari
itu Rei memutuskan untuk datang ke rumah Arai. Selama dua tahun berhubungan
dengan Arai baru sekali Rei datang ke rumah Arai. Rumah Arai tampak sepi dari
luar. Orang tua Arai bercerai ketika Arai masih sekolah dasar, dan sekarang dia
hanya tinggal berdua dengan ibunya. Sehari – hari ibu Arai bekerja sebagai guru
sekolah dasar di sekolah yang tidak jauh dari rumah Arai. Seharusnya jam segini
Ibu Arai sudah pulang dari bekerja, tapi kenapa tidak terlihat tanda – tanda ada
orang di rumah Arai?
Rei
pun memutuskan untuk menunggu di depan rumah Arai setelah berkali – kali menekan
bel tapi tidak ada yang menjawab. Hampir tiga jam Rei menunggu tapi tidak ada
tanda – tanda Arai atau ibunya pulang. Ketika Rei hendak pergi, ibu Arai
datang. Rei tersenyum dan menghampiri ibu Arai yang hari itu terlihat sangat
lelah.
“Konnichiwa,
anoo saya temannya Arai” Rei memperkenalkan diri. Ibu Arai tampak mengenali Rei.
“Rei
chan desuka?” tanya Ibu Arai.
“Hai,
Takano Rei desu” jawab Rei.
“Kamu
mencari Arai?” tanya Ibu Arai lagi.
“Iya,
sudah dua hari ini saya menghubungi Arai tapi tidak pernah diangkat. Ada hal
penting yang perlu saya biacarakan dengan Arai” jawab Rei.
“Masuklah”
ajak Ibu Arai lalu membuka pagar.
***
“Dozo”
Ibu Arai memberikan jus jeruk pada Rei.
“Arigatougozaimasu”
kata Rei sambil menerima segelas jus jeruk dari Ibu Arai. Mereka berdua duduk
di ruang tamu.
“Arai
banyak bercerita tentang kamu” kata Ibu Arai sambil tersenyum memandang Rei.
“Benarkah?”
tanya Rei.
“Iya”
Ibu Arai mengiyakan. “Ibu tidak pernah melihat Arai begitu bersemangat dan
berbinar menceritakan temannya, jadi ketika Arai mulai bercerita tentang Rei
chan, ibu menebak kalau Rei chan pasti orang yang sangat penting buat Arai” Ibu
Arai mulai bercerita. Rei hanya diam saja mendengar cerita Ibu Arai. Rei belum
pernah bertemu dengan Ibu Arai dan Arai pun tidak banyak bercerita tentang
keluarganya. Melihat Rei yang terdiam kemudian Ibu Arai melanjutkan ceritanya.
“Dua
tahun yang lalu Arai didiagnosa mengidap kanker otak” lanjut Ibu Arai. Rei
sangat terkejut mendengar pengakuan Ibu Arai.
“Kanker
otak?” tanya Rei tidak percaya. Ibu Arai mengangguk sedih.
“Arai
tidak bisa menerima kenyataan kalau dia mengidap penyakit yang mematikan,
bahkan dia pernah mencoba untuk bunuh diri” Rei terpana tidak percaya dengan
cerita Ibu Arai.
“Tidak
mungkin” kata Rei.
“Suatu
hari Arai pulang dengan kondisi basah kuyup, Ibu sangat kaget namun saat itu
Ibu melihat ada cahaya di mata Arai yang berhari – hari hilang” lanjut Ibu Arai
sambil menerawang mengingat kejadian dua tahun yang lalu.
“Ternyata
hari itu Arai mencoba bunuh diri terjun dari jembatan, namun dia diselamatkan oleh
seseorang” kata Ibu Arai.
“Bunuh
diri? Jembatan?” tanya Rei.
Ibu
Arai mengangguk, “Iya dan kamu yang menyelamatkan Arai hari itu” kata ibu Arai.
“Saya?”
tanya Rei mencoba mengingat kejadian dua tahun lalu. Memory Rei kembali di hari
ketika dia termenung di jembatan melihat ke arah sungai yang mengalir deras di
bawahnya mengenang kematian saudara kembarnya yang meninggal karena hanyut di sungai itu. Lalu
dia melihat seorang lelaki yang melompat ke sungai. Tanpa pikir panjang Rei
melompat ke sungai padahal dia tidak bisa berenang. Yang dia ingat adalah ada
seseorang yang menyelamatkannya tapi dia tidak bisa mengingat siapa yang
menyelamatkannya.
“Saya
ingat, jadi orang yang melompat ke sungai itu Arai?” tanya Rei.
“Benar,
hari itu dia melompat ke sungai, ketika dia melompat ada perempuan yang
berteriak meminta bantuan, karena tidak ada orang di sekitar jembatan selain
kalian berdua, kamu nekad melompat ke sungai untuk meyelamatkan Arai padahal
kamu tidak bisa berenang. Saat itu Arai memutuskan untuk menolong Rei chan.
Arai tidak mau ada nyawa yang hilang karena dirinya” cerita Ibu Arai.
“Saya
sama sekali tidak tahu kalau itu Arai karena saya tidak melihat dengan jelas
wajah orang itu” kata Rei.
“Ketika
kamu tak sadarkan diri, kamu menggenggam erat tangan Arai sambil bilang jangan
pergi, jangan mati” kata Ibu Arai sambil tersenyum. “Karena hal itu Arai
tersadar kalau bunuh diri bukan solusi dari sebuah masalah, dan hari itu Arai
jatuh cinta pada malaikat penolongnya” lanjut Ibu Arai.
“Terima
kasih Rei chan” kata ibu Arai sambil menggenggam tangan Rei, air mata membasahi
pipinya.
Rei
masih tidak percaya dengan cerita Ibu Arai. “sekarang Arai dimana Bu?” tanya
Rei pada akhirnya.
“Arai
di rumah sakit, dia akan melakukan operasi dua hari lagi. Kanker otak yang
dideritanya membuat kondisinya semakin menurun. Dia tidak mau kemoterapi karena
biaya pengobatannya sangat mahal, Arai tidak mau membebani saya. Penghasilan saya
tidaklah banyak, dan dia tidak mau meminta bantuan dari ayahnya. Saya tidak
tega melihat Arai menderita jadi saya menghubungi ayah Arai dan dia bersedia
membantu pengobatan Arai. Awalnya Arai menolak tapi cintanya yang sangat besar
pada Rei chan membuat dia ingin sembuh” kata Ibu Arai.
“Tapi
Arai memtuskan saya Bu” kata Rei tersedu –sedu.
“Percayalah
Rei chan, Arai sangat mencintai Rei chan. Yang membuat dia semangat untuk
sembuh adalah Rei chan” kata Ibu Arai. “Arai hanya tidak tahu apa yang harus
dia lakukan, dia tidak ingin menyakiti hati Rei chan tapi dia lebih tidak ingin
melihat Rei chan sedih dan mengasihaninya karena penyakit yang dideritanya” Ibu
Arai menjelaskan pada rei.
“Saya
mencintainya Bu” kata Rei.
“Ibu
tahu” kata Ibu Arai sambil memeluk Rei.
“Boleh
saya menjenguk Arai?” tanya Rei.
“Mungkin Arai akan marah karena Rei chan tahu penyakitnya. Ibu harap Rei chan bisa sabar
menghadapi sikap Arai” kata Ibu Arai.
***
Hari
ini Rei untuk pertama kalinya datang menjenguk Arai di rumah sakit. Rei berdiri
di depan pintu kamar rawat Arai. Berkali – kali dia menarik nafas panjang untuk
menghentikan kegugupannya. Akhirnya setelah Rei berdiri sekitar lima menit, dia
pun mengetuk pintu kamar Arai.
“Masuk”
terdengan suara Arai dari dalam kamar.
Perlahan
Rei membuka pintu kamar Arai.
“Arai”
sapa Rei, seulas senyum menghiasi bibirnya.
“Rei,
dari mana kamu tahu?” tanya Arai tidak mempercayai kalau yang berdiri di
hadapannya adalah Rei, gadis yang paling dicintainya sekaligus gadis yang
paling tidak ingin dia temui dalam kondisinya yang sekarang.
“Ibumu
sudah menceritakan smeuanya padaku”.
“Souka”.
“Ne
Arai, kenapa kamu menyembunyikannya dariku?”.
“Aku
tidak menyembunyikan apapun, aku hanya merasa ini bukan hal yang pantas untuk
diceritakan. Aku tidak mau dikasihani”.
“Dikasihani?
Aku tidak pernah sekalipun mengasihanimu”.
“Kamu
akan merasa kasihan padaku kalau kamu tahu lebih awal, aku tidak mau kamu
menatapku dengan sorot mata kasihan”.
“Aku
mencintaimu Arai, apa itu tidak cukup bagimu untuk percaya padaku? Cintaku bukan
kasihan. Aku sedih tapi aku tidak kasihan padamu”.
Aria
hanya terdiam mendengar ucapan Rei.
“Arai
jangan diam saja, kamu mencintaiku kan?” tanya Rei.
“Pulanglah
Rei, tidak ada gunanya kamu di sini. Semakin lama kamu di sini kamu akan
semakin sedih melihat kondisiku. Dan aku tidak bisa melihat kesedihan di matamu”.
“Aku
tidak akan kemana – mana, aku akan terus ada di sini sampai kamu bilang kalau kamu mencintaiku. Ya, aku
sedih sangat sedih, bahkan semalaman aku menangis. Tapi, aku tidak kalah dengan
kesedihan. Aku akan menjadi kekuatan untuk kamu” Rei menatap tajam mata Arai.
“Rei”.
“Kamu
mengerti kan Arai? Aku mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu karena
penyakitmu. Jadi kamu jangan pernah beripikir untuk meninggalkanku. Sejauh appaun
kamu pergi, aku pasti akan menemukanmu”.
“Gomen
Rei, aku hanya tidak tahu harus bagaimana. Semakin hari aku semakin merasakan
sakit. Aku takut”.
“Aku
di sini Arai, kamu jangan takut” kata Rei sambil memeluk erat Arai.
***
Dua
hari lagi operasi Arai akan dilakukan, setiap hari Rei selalu datang menjenguk
dan menemani Arai di rumah sakit. Hari itu sepulang sekolah seperti biasa Rei
menjenguk Arai, tidak seperti biasanya Arai tampak pucat dan murung.
“Kamu
tidak apa – apa? Kamu terlihat pucat” tanya Rei.
“Aku
tidak apa – apa Rei, hanya tidak bisa tidur semalam” jawab Arai.
“Kenapa
tidak bisa tidur? Apa yang mengganggu pikiranmu?”
“Sejujurnya
aku sangat takut kalau operasiku gagal, aku takut aku tidak akan bisa membuka
mataku lagi”.
“Kamu
ngomong apa sih, kamu pasti sembuh, bukankah kata dokter keberhasilan
operasinya 70%. Kamu harus semangat dan percaya pada Tuhan kalau kamu pasti
akan sembuh”.
“Tapi
masih ada 30% kemungkinan gagal” kata Arai murung.
“Tidak
Arai, 30% itu bukan kemungkinan gagal, tapi 30% adalah do’a. Tuhan akan
menyembuhkanmu. Aku tahu itu, Tuhan tidak akan membuatmu merasa sakit lagi
setelah operasi itu. Kamu akan sembuh dan kita akan sama – sama selamanya”.
“Kamu
percaya pada Tuhan?” tanya Arai.
“Ya,
aku percaya pada Tuhan” jawab Rei mantap.
“Kalau
begitu aku juga percaya kalau aku akan sembuh” Arai tersenyum lembut.
***
Operasi
Arai sudah berlangsung selama 5 jam masih ada 7 jam lagi. Reid an kedua orang
tua Arai menunggu dengan cemas. Detik demi detik terasa berlalu dengan sangat
lambat. Rei meremas kedua tangannya. Matanya terpejam, memanjatkan do’a untuk
Arai. Entah kenapa dia merasa sangat gelisah. Dia berusaha menghilangkan rasa
gelisahnya sejak Arai masuk ke ruang operasi namun rasa itu tetap menyelimuti
hatinya.
Lampu
berganti dengan warna hijau, akhirnya operasi Arai selesai. Tidak berapa lama
kemudian dokter keluar dari ruang operasi.
“Operasi
Arai berhasil, tapi kita masih harus menunggu perkembangannya setelah Arai
terbangun dari obat bius” kata dokter menjelaskan kepada kedua orang tua Arai.
“Terima
kasih dokter” kata Ayah Arai sambil menjabat tangan dokter.
“Rei
chan” Ibu Arai memeluk Rei erat, Rei tersenyum dan memeluk Ibu Arai.
Namun
Arai tidak pernah terbangun dari tidurnya. 3 jam setelah operasi, otak Arai
mengalami pendarahan dan Arai mengalami koma. Rei sangat sedih melihat kondisi
Arai yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Arai yang selalu ceria, Arai
yang selalu menjadi mataharinya kini terbaring diam dengan selang – selang dan
alat bantu pernafasan terpasang di tubunya.
Arai
tampak seperti orang yang sedang tertidur pulas tanpa terasa air mata rei
menetes.
“Arai
bangun, aku mohon” bisik Rei. Tapi Arai hanya terdiam. Air mata Rei semakin
membanjiri pipinya.
Setelah
satu minggu koma dan tidak ada tanda – tanda akan sadar, dokter memutuskan
untuk melepas alat penunjang kehidupan Arai. Sebenarnya Arai masih bertahan
hidup hanya karena ditunjang oleh alat – alat medis.
“Tidak
dokter, saya mohon jangan lakukan itu” kata Rei memohon pada dokter untuk tidak
melepas alat – alat medis pada tubuh Arai.
“Maafkan
saya, secara medis Arai sudah meninggal” kata dokter.
“Arai
belum meninggal” kata Rei keras kepala.
“Rei
chan, kita relakan Arai pergi ya” kata Ibu Arai sambil memeluk Rei.
“Tidak,
Arai akan bangun, aku yakin itu”.
“Rei
chan” Ibu Arai menangis tidak kuasa melihat kondisi putranya dan Rei.
“Arai
bangun, aku mohon buka matamu. Buka matamu Arai meskipun untuk terakhir
kalinya. Aku mohon” Rei berkata lirih sambil mengguncang tubuh Arai.
Namun
Arai hanya terdiam, setetes air mata keluar dari mata Arai diikuti oleh bunyi
bip panjang terdengar dari alat deteksi jantung Arai.
Arai
pergi untuk selamanya sebelum dokter melepas alat – alat medis tersebut.
“Tidaaaaakk,
Arai tidak Arai jangan tinggalkan aku, aku mohon” tangis Rei pun pecah, dia memeluk
tubuh Arai dengan erat.
***
Seminggu
setelah pemakaman Arai, Rei tampak berdiri di jembatan tempat dia pertama kali
bertemu dengan Arai.
“Arai”
bisiknya pelan. Angin musim gugur membuat rambut Rei menari – nari. Mata Rei
menerawang, dia merasa kalau Arai masih ada di sini bersamanya. Dia belum bisa
menerima kepergian Arai.
“Rei
chan” terdengar suara menyapa Rei.
Rei
menoleh dan terlihat Ibu Arai berdiri tidak jauh dari Rei.
“Konnichiwa”
sapa Rei.
“Kebetulan
ibu bertemu Rei chan di sini, Ibu mau menyerahkan ini” kata Ibu Arai sambil
menyerahkan sepucuk surat pada Rei.
“Ini?”
Rei menatap surat yang ada di tangannya.
“Arai
menulisnya di malam sebelum dia dioperasi” kata Ibu Arai.
Rei
hanya tediam, air mata menetes di wajahnya.
“Rei
chan, Ibu yakin kalau Arai sudah bahagia sekarang. Dia tidak akan pernah
menyesali hidupnya atau penyakit yang dideritanya. Karena semua itu terbayar
dengan adanya Rei chan di samping Arai selama ini” kata Ibu Arai.
Rei
masih terpaku di jembatan setelah Ibu Arai pergi. Perlahan dia membuka amplop
dan mengeluarkan lembaran kertas yang ada di dalamnya. Tulisan Arai tampak
rapi. Rei mulai membaca surat yang ditulis Arai untuknya.
Dear Rei,
Rei, saat kamu membaca surat ini,
artinya aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Bukan berarti aku memang ingin
pergi sehingga aku menulis surat untukmu. Tapi aku takut aku tidak akan pernah bisa
membuka mata dan mengucapkan perpisahan padamu jadi aku menulis surat ini.
Rei, tahukah kamu kalau selama ini
aku merasa Tuhan tidak adil padaku. Aku masih muda tapi aku harus menderita
kanker otak. Aku marah pada Tuhan. Hari itu aku terjun dari jembatan dan
berniat bunuh diri tapi kamu terjun ke sungai dan menyelamatkanku. Sebenarnya tidak
bisa dibilang menyelamatkan aku karena kamu tidak bisa berenang dan justru aku
yang meyelamatkamu.
Rei, hari itu juga aku jatuh cinta
padamu, jatuh cinta pada keberanianmu, dan jatuh cinta pada keceriaanmu. Bagiku
kamu seperti matahari di musim semi.
Rei, aku harap kamu tidak terlalu
bersedih karena kepergianku. Yang harus kamu lakukan adalah mengenangku sebagai
kenangan terindah dalam hidup kamu. Tidak apa – apa jika kamu melupakanku nanti
karena aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku membawa cintaku dan kenanganku
denganmu.
Rei, aku berharap kamu tetap menjadi
Rei ku, Rei yang penuh semangat, Rei yang pemberani, Matahariku.
Rei, setelah membaca surat ini aku
ingin kamu melakukan satu hal untukku. Tersenyumlah Rei, tersenyum untukku dan
berjalanlah tanpa menengok lagi ke belakang.
Yang selalu mencintaimu.
Arai.
Rei,
melipat surat dari Arai dan menangis namun seuntai senyum menghiasi bibirnya. “Aku
juga selalu mencintaimu Arai” bisik Rei. Dan diapun pergi meninggalakn jembatan
itu .
TAMAT