Thursday, October 6, 2016

It's Time to Say Goodbye

“Gomen, kita sampai di sini saja” Arai menatap wajah Rei.
“Sampai di sini? Maksudnya kamu tidak mengantarku sampai ke rumah seperti biasa?” tanya Rei.
“Bukan , maksud aku hubungan kita sampai di sini saja” jawab Arai.
“Kamu mau kita pu..putus?” tanya Rei ragu – ragu. Arai menggangguk.
“Eeh,, nande? Kenapa kamu ingin putus? A..apa aku melakukan kesalahan?” Rei bertanya terbata – bata, air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Tidak, aku hanya sudah tidak bisa sama kamu lagi” jawab Arai.
“Arai kamu bercanda kan? Kenapa tiba – tiba begini? Uso desyo?” kini air mata telah mengalir di wajah Rei.
“Usojanai, gomen Rei” Arai melepaskan tangan Rei dan pergi meninggalkan Rei yang termangu menatap kepergian Arai dengan hati yang terluka.
***
Sudah dua hari Rei tidak keluar kamar, dia masih tidak percaya kalau Arai tiba – tiba saja memutuskan hubungan mereka. Dua tahun mereka berpacaran dan tidak pernah ada masalah . Rei berusaha menghubungi Arai tapi telponnya tidak pernah diangkat, pesannya tidak pernah dibalas. Rei benar – benar tidak tahu harus bagaimana, dia sangat mencintai Arai dan dia yakin kalau Arai juga memiliki perasaan yang sama.
Dua tahun yang lalu Arai menyatakan perasaannya kepada Rei dan merekapun akhirnya berpacaran. Arai selalu bersikap baik dan menjaga Rei. Selalu mengalah pada Rei, tidak pernah sekalipun mengingkari janji. Setelah dua tahun yang penuh kebahagiaan kenapa sekarang Arai memutuskan kalau mereka tidak bisa bersama lagi. Kemana cinta itu pergi? Apakah cinta memang semudah itu hilang? Apakah ada perempuan lain? Beribu pertanyaan berkecamuk di benak Rei.
Hari itu Rei memutuskan untuk datang ke rumah Arai. Selama dua tahun berhubungan dengan Arai baru sekali Rei datang ke rumah Arai. Rumah Arai tampak sepi dari luar. Orang tua Arai bercerai ketika Arai masih sekolah dasar, dan sekarang dia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Sehari – hari ibu Arai bekerja sebagai guru sekolah dasar di sekolah yang tidak jauh dari rumah Arai. Seharusnya jam segini Ibu Arai sudah pulang dari bekerja, tapi kenapa tidak terlihat tanda – tanda ada orang di rumah Arai?
Rei pun memutuskan untuk menunggu di depan rumah Arai setelah berkali – kali menekan bel tapi tidak ada yang menjawab. Hampir tiga jam Rei menunggu tapi tidak ada tanda – tanda Arai atau ibunya pulang. Ketika Rei hendak pergi, ibu Arai datang. Rei tersenyum dan menghampiri ibu Arai yang hari itu terlihat sangat lelah.
“Konnichiwa, anoo saya temannya Arai” Rei memperkenalkan diri. Ibu Arai tampak mengenali Rei.
“Rei chan desuka?” tanya Ibu Arai.
“Hai, Takano Rei desu” jawab Rei.
“Kamu mencari Arai?” tanya Ibu Arai lagi.
“Iya, sudah dua hari ini saya menghubungi Arai tapi tidak pernah diangkat. Ada hal penting yang perlu saya biacarakan dengan Arai” jawab Rei.
“Masuklah” ajak Ibu Arai lalu membuka pagar.
***
“Dozo” Ibu Arai memberikan jus jeruk pada Rei.
“Arigatougozaimasu” kata Rei sambil menerima segelas jus jeruk dari Ibu Arai. Mereka berdua duduk di ruang tamu.
“Arai banyak bercerita tentang kamu” kata Ibu Arai sambil tersenyum memandang Rei.
“Benarkah?” tanya Rei.
“Iya” Ibu Arai mengiyakan. “Ibu tidak pernah melihat Arai begitu bersemangat dan berbinar menceritakan temannya, jadi ketika Arai mulai bercerita tentang Rei chan, ibu menebak kalau Rei chan pasti orang yang sangat penting buat Arai” Ibu Arai mulai bercerita. Rei hanya diam saja mendengar cerita Ibu Arai. Rei belum pernah bertemu dengan Ibu Arai dan Arai pun tidak banyak bercerita tentang keluarganya. Melihat Rei yang terdiam kemudian Ibu Arai melanjutkan ceritanya.
“Dua tahun yang lalu Arai didiagnosa mengidap kanker otak” lanjut Ibu Arai. Rei sangat terkejut mendengar pengakuan Ibu Arai.
“Kanker otak?” tanya Rei tidak percaya. Ibu Arai mengangguk sedih.
“Arai tidak bisa menerima kenyataan kalau dia mengidap penyakit yang mematikan, bahkan dia pernah mencoba untuk bunuh diri” Rei terpana tidak percaya dengan cerita Ibu Arai.
“Tidak mungkin” kata Rei.
“Suatu hari Arai pulang dengan kondisi basah kuyup, Ibu sangat kaget namun saat itu Ibu melihat ada cahaya di mata Arai yang berhari – hari hilang” lanjut Ibu Arai sambil menerawang mengingat kejadian dua tahun yang lalu.
“Ternyata hari itu Arai mencoba bunuh diri terjun dari jembatan, namun dia diselamatkan oleh seseorang” kata Ibu Arai.
“Bunuh diri? Jembatan?” tanya Rei.
Ibu Arai mengangguk, “Iya dan kamu yang menyelamatkan Arai hari itu” kata ibu Arai.
“Saya?” tanya Rei mencoba mengingat kejadian dua tahun lalu. Memory Rei kembali di hari ketika dia termenung di jembatan melihat ke arah sungai yang mengalir deras di bawahnya mengenang kematian saudara kembarnya yang meninggal karena hanyut di sungai itu. Lalu dia melihat seorang lelaki yang melompat ke sungai. Tanpa pikir panjang Rei melompat ke sungai padahal dia tidak bisa berenang. Yang dia ingat adalah ada seseorang yang menyelamatkannya tapi dia tidak bisa mengingat siapa yang menyelamatkannya.
“Saya ingat, jadi orang yang melompat ke sungai itu Arai?” tanya Rei.
“Benar, hari itu dia melompat ke sungai, ketika dia melompat ada perempuan yang berteriak meminta bantuan, karena tidak ada orang di sekitar jembatan selain kalian berdua, kamu nekad melompat ke sungai untuk meyelamatkan Arai padahal kamu tidak bisa berenang. Saat itu Arai memutuskan untuk menolong Rei chan. Arai tidak mau ada nyawa yang hilang karena dirinya” cerita Ibu Arai.
“Saya sama sekali tidak tahu kalau itu Arai karena saya tidak melihat dengan jelas wajah orang itu” kata Rei.
“Ketika kamu tak sadarkan diri, kamu menggenggam erat tangan Arai sambil bilang jangan pergi, jangan mati” kata Ibu Arai sambil tersenyum. “Karena hal itu Arai tersadar kalau bunuh diri bukan solusi dari sebuah masalah, dan hari itu Arai jatuh cinta pada malaikat penolongnya” lanjut Ibu Arai.
“Terima kasih Rei chan” kata ibu Arai sambil menggenggam tangan Rei, air mata membasahi pipinya.
Rei masih tidak percaya dengan cerita Ibu Arai. “sekarang Arai dimana Bu?” tanya Rei pada akhirnya.
“Arai di rumah sakit, dia akan melakukan operasi dua hari lagi. Kanker otak yang dideritanya membuat kondisinya semakin menurun. Dia tidak mau kemoterapi karena biaya pengobatannya sangat mahal, Arai tidak mau membebani saya. Penghasilan saya tidaklah banyak, dan dia tidak mau meminta bantuan dari ayahnya. Saya tidak tega melihat Arai menderita jadi saya menghubungi ayah Arai dan dia bersedia membantu pengobatan Arai. Awalnya Arai menolak tapi cintanya yang sangat besar pada Rei chan membuat dia ingin sembuh” kata Ibu Arai.
“Tapi Arai memtuskan saya Bu” kata Rei tersedu –sedu.
“Percayalah Rei chan, Arai sangat mencintai Rei chan. Yang membuat dia semangat untuk sembuh adalah Rei chan” kata Ibu Arai. “Arai hanya tidak tahu apa yang harus dia lakukan, dia tidak ingin menyakiti hati Rei chan tapi dia lebih tidak ingin melihat Rei chan sedih dan mengasihaninya karena penyakit yang dideritanya” Ibu Arai menjelaskan pada rei.
“Saya mencintainya Bu” kata Rei.
“Ibu tahu” kata Ibu Arai sambil memeluk Rei.
“Boleh saya menjenguk Arai?” tanya Rei.
“Mungkin Arai akan marah karena Rei chan tahu penyakitnya. Ibu harap Rei chan bisa sabar menghadapi sikap Arai” kata Ibu Arai.


***


Hari ini Rei untuk pertama kalinya datang menjenguk Arai di rumah sakit. Rei berdiri di depan pintu kamar rawat Arai. Berkali – kali dia menarik nafas panjang untuk menghentikan kegugupannya. Akhirnya setelah Rei berdiri sekitar lima menit, dia pun mengetuk pintu kamar Arai.
“Masuk” terdengan suara Arai dari dalam kamar.
Perlahan Rei membuka pintu kamar Arai.
“Arai” sapa Rei, seulas senyum menghiasi bibirnya.
“Rei, dari mana kamu tahu?” tanya Arai tidak mempercayai kalau yang berdiri di hadapannya adalah Rei, gadis yang paling dicintainya sekaligus gadis yang paling tidak ingin dia temui dalam kondisinya yang sekarang.
“Ibumu sudah menceritakan smeuanya padaku”.
“Souka”.
“Ne Arai, kenapa kamu menyembunyikannya dariku?”.
“Aku tidak menyembunyikan apapun, aku hanya merasa ini bukan hal yang pantas untuk diceritakan. Aku tidak mau dikasihani”.
“Dikasihani? Aku tidak pernah sekalipun mengasihanimu”.
“Kamu akan merasa kasihan padaku kalau kamu tahu lebih awal, aku tidak mau kamu menatapku dengan sorot mata kasihan”.
“Aku mencintaimu Arai, apa itu tidak cukup bagimu untuk percaya padaku? Cintaku bukan kasihan. Aku sedih tapi aku tidak kasihan padamu”.
Aria hanya terdiam mendengar ucapan Rei.
“Arai jangan diam saja, kamu mencintaiku kan?” tanya Rei.
“Pulanglah Rei, tidak ada gunanya kamu di sini. Semakin lama kamu di sini kamu akan semakin sedih melihat kondisiku. Dan aku tidak bisa melihat kesedihan di matamu”.
“Aku tidak akan kemana – mana, aku akan terus ada di sini sampai  kamu bilang kalau kamu mencintaiku. Ya, aku sedih sangat sedih, bahkan semalaman aku menangis. Tapi, aku tidak kalah dengan kesedihan. Aku akan menjadi kekuatan untuk kamu” Rei menatap tajam mata Arai.
“Rei”.
“Kamu mengerti kan Arai? Aku mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu karena penyakitmu. Jadi kamu jangan pernah beripikir untuk meninggalkanku. Sejauh appaun kamu pergi, aku pasti akan menemukanmu”.
“Gomen Rei, aku hanya tidak tahu harus bagaimana. Semakin hari aku semakin merasakan sakit. Aku takut”.
“Aku di sini Arai, kamu jangan takut” kata Rei sambil memeluk erat Arai.
***

Dua hari lagi operasi Arai akan dilakukan, setiap hari Rei selalu datang menjenguk dan menemani Arai di rumah sakit. Hari itu sepulang sekolah seperti biasa Rei menjenguk Arai, tidak seperti biasanya Arai tampak pucat dan murung.
“Kamu tidak apa – apa? Kamu terlihat pucat” tanya Rei.
“Aku tidak apa – apa Rei, hanya tidak bisa tidur semalam” jawab Arai.
“Kenapa tidak bisa tidur? Apa yang mengganggu pikiranmu?”
“Sejujurnya aku sangat takut kalau operasiku gagal, aku takut aku tidak akan bisa membuka mataku lagi”.
“Kamu ngomong apa sih, kamu pasti sembuh, bukankah kata dokter keberhasilan operasinya 70%. Kamu harus semangat dan percaya pada Tuhan kalau kamu pasti akan sembuh”.
“Tapi masih ada 30% kemungkinan gagal” kata Arai murung.
“Tidak Arai, 30% itu bukan kemungkinan gagal, tapi 30% adalah do’a. Tuhan akan menyembuhkanmu. Aku tahu itu, Tuhan tidak akan membuatmu merasa sakit lagi setelah operasi itu. Kamu akan sembuh dan kita akan sama – sama selamanya”.
“Kamu percaya pada Tuhan?” tanya Arai.
“Ya, aku percaya pada Tuhan” jawab Rei mantap.
“Kalau begitu aku juga percaya kalau aku akan sembuh” Arai tersenyum lembut.
***

Operasi Arai sudah berlangsung selama 5 jam masih ada 7 jam lagi. Reid an kedua orang tua Arai menunggu dengan cemas. Detik demi detik terasa berlalu dengan sangat lambat. Rei meremas kedua tangannya. Matanya terpejam, memanjatkan do’a untuk Arai. Entah kenapa dia merasa sangat gelisah. Dia berusaha menghilangkan rasa gelisahnya sejak Arai masuk ke ruang operasi namun rasa itu tetap menyelimuti hatinya.
Lampu berganti dengan warna hijau, akhirnya operasi Arai selesai. Tidak berapa lama kemudian dokter keluar dari ruang operasi.
“Operasi Arai berhasil, tapi kita masih harus menunggu perkembangannya setelah Arai terbangun dari obat bius” kata dokter menjelaskan kepada kedua orang tua Arai.
“Terima kasih dokter” kata Ayah Arai sambil menjabat tangan dokter.
“Rei chan” Ibu Arai memeluk Rei erat, Rei tersenyum dan memeluk Ibu Arai.
Namun Arai tidak pernah terbangun dari tidurnya. 3 jam setelah operasi, otak Arai mengalami pendarahan dan Arai mengalami koma. Rei sangat sedih melihat kondisi Arai yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Arai yang selalu ceria, Arai yang selalu menjadi mataharinya kini terbaring diam dengan selang – selang dan alat bantu pernafasan terpasang di tubunya.
Arai tampak seperti orang yang sedang tertidur pulas tanpa terasa air mata rei menetes.
“Arai bangun, aku mohon” bisik Rei. Tapi Arai hanya terdiam. Air mata Rei semakin membanjiri pipinya.
Setelah satu minggu koma dan tidak ada tanda – tanda akan sadar, dokter memutuskan untuk melepas alat penunjang kehidupan Arai. Sebenarnya Arai masih bertahan hidup hanya karena ditunjang oleh alat – alat medis.
“Tidak dokter, saya mohon jangan lakukan itu” kata Rei memohon pada dokter untuk tidak melepas alat – alat medis pada tubuh Arai.
“Maafkan saya, secara medis Arai sudah meninggal” kata dokter.
“Arai belum meninggal” kata Rei keras kepala.
“Rei chan, kita relakan Arai pergi ya” kata Ibu Arai sambil memeluk Rei.
“Tidak, Arai akan bangun, aku yakin itu”.
“Rei chan” Ibu Arai menangis tidak kuasa melihat kondisi putranya dan Rei.
“Arai bangun, aku mohon buka matamu. Buka matamu Arai meskipun untuk terakhir kalinya. Aku mohon” Rei berkata lirih sambil mengguncang tubuh Arai.
Namun Arai hanya terdiam, setetes air mata keluar dari mata Arai diikuti oleh bunyi bip panjang terdengar dari alat deteksi jantung Arai.
Arai pergi untuk selamanya sebelum dokter melepas alat – alat medis tersebut.
“Tidaaaaakk, Arai tidak Arai jangan tinggalkan aku, aku mohon” tangis Rei pun pecah, dia memeluk tubuh Arai dengan erat.

***

Seminggu setelah pemakaman Arai, Rei tampak berdiri di jembatan tempat dia pertama kali bertemu dengan Arai.
“Arai” bisiknya pelan. Angin musim gugur membuat rambut Rei menari – nari. Mata Rei menerawang, dia merasa kalau Arai masih ada di sini bersamanya. Dia belum bisa menerima kepergian Arai.
“Rei chan” terdengar suara menyapa Rei.
Rei menoleh dan terlihat Ibu Arai berdiri tidak jauh dari Rei.
“Konnichiwa” sapa Rei.
“Kebetulan ibu bertemu Rei chan di sini, Ibu mau menyerahkan ini” kata Ibu Arai sambil menyerahkan sepucuk surat pada Rei.
“Ini?” Rei menatap surat yang ada di tangannya.
“Arai menulisnya di malam sebelum dia dioperasi” kata Ibu Arai.
Rei hanya tediam, air mata menetes di wajahnya.
“Rei chan, Ibu yakin kalau Arai sudah bahagia sekarang. Dia tidak akan pernah menyesali hidupnya atau penyakit yang dideritanya. Karena semua itu terbayar dengan adanya Rei chan di samping Arai selama ini” kata Ibu Arai.
Rei masih terpaku di jembatan setelah Ibu Arai pergi. Perlahan dia membuka amplop dan mengeluarkan lembaran kertas yang ada di dalamnya. Tulisan Arai tampak rapi. Rei mulai membaca surat yang ditulis Arai untuknya.

Dear Rei,
Rei, saat kamu membaca surat ini, artinya aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Bukan berarti aku memang ingin pergi sehingga aku menulis surat untukmu. Tapi aku takut aku tidak akan pernah bisa membuka mata dan mengucapkan perpisahan padamu jadi aku menulis surat ini.

Rei, tahukah kamu kalau selama ini aku merasa Tuhan tidak adil padaku. Aku masih muda tapi aku harus menderita kanker otak. Aku marah pada Tuhan. Hari itu aku terjun dari jembatan dan berniat bunuh diri tapi kamu terjun ke sungai dan menyelamatkanku. Sebenarnya tidak bisa dibilang menyelamatkan aku karena kamu tidak bisa berenang dan justru aku yang meyelamatkamu.

Rei, hari itu juga aku jatuh cinta padamu, jatuh cinta pada keberanianmu, dan jatuh cinta pada keceriaanmu. Bagiku kamu seperti matahari di musim semi.

Rei, aku harap kamu tidak terlalu bersedih karena kepergianku. Yang harus kamu lakukan adalah mengenangku sebagai kenangan terindah dalam hidup kamu. Tidak apa – apa jika kamu melupakanku nanti karena aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku membawa cintaku dan kenanganku denganmu.

Rei, aku berharap kamu tetap menjadi Rei ku, Rei yang penuh semangat, Rei yang pemberani, Matahariku.

Rei, setelah membaca surat ini aku ingin kamu melakukan satu hal untukku. Tersenyumlah Rei, tersenyum untukku dan berjalanlah tanpa menengok lagi ke belakang.

Yang selalu mencintaimu.
Arai.

Rei, melipat surat dari Arai dan menangis namun seuntai senyum menghiasi bibirnya. “Aku juga selalu mencintaimu Arai” bisik Rei. Dan diapun pergi meninggalakn jembatan itu .
TAMAT



No comments:

Post a Comment