Monday, November 7, 2016

On Rainy Days

Hari itu hujan turun dengan lebatnya seperti tak ada tanda-tanda akan reda dengan cepat. Airin tampak gelisah menunggu hujan reda, hari semakin gelap dan dia masih terjebak di kampus karena hujan yang tak kunjung reda. Tak ada pilihan lain dia memilih hujan-hujanan pulang dari pada menunggu toh rumah kos nya tidak begitu jauh dari kampus. Ketika Airin bersiap menembus lebatnya hujan tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya. Airin pun menoleh dan terpaku melihat sesososk lelaki yang tersenyum kepadanya.
“Mau pulang Rin? Hujan-hujan begini?” tanya Hata.
“Oh iya mas dari pada kemaleman nunggu hujan tak kunjung reda” jawab Airin.
“Kamu nggak bawa payung? Naik apa kamu pulang?” Hata terlihat kawatir.
“Jalan kaki nggak apa-apa kok mas, kan rumah kos ku deket dari sini jalan lima belas menit juga sampe hehehe” Airin mencoba tersenyum meyakinkan.
“Mas anter kamu pulang, lima belis menit itu lama kamu bisa basah kuyup sampe kosan kan hujannya lebat banget” Hata berjalan menuju parkiran mobil. “Kamu tunggu di sini jangan kemana-mana” lanjutnya.
“Nggak usah Mas, beneran deh aku nggak apa-apa kok jalan kaki udah biasa dan kayaknya hujannya juga udah mulai reda” Airin bersiap pergi tapi Hata menahannya.
“Rin, please kamu bisa sakit kalo hujan-hujanan begini, kamu kan gampang kena flu kalo kena hujan dan kedinginan. Mas anterin jangan membantah.”
Mau tak mau Airin pun menuruti Hata meskipun dengan berhuta perasaan berkecamuk di hatinya.
Di dalam mobil suasana terasa canggung, Airin tak tau apa yang harus dibicarakan dan dia hanya terdiam melihat tetes-tetes air hujan yang membasahi jendela mobil. Suara Hata memecah keheningan “dulu juga hujan lebat banget kayak gini kan Rin?”
“Hmm??,Mas masih ingat itu sudah setahun yang lalu.” Airin tampak termenung lalu dia melanjutkan “jaketku masih mas simpan kan? Jangan-jangan udah mas jual tuh jaket hehehe”.
“Masih, mana mungkin aku menjualnya. Bunda yang menyimpan kata beliau kamu yang harus mengambilnya sendiri di rumah” Hata menoleh memandang Airin sambil tersenyum.
Entah kenapa melihat senyum Hata membuat hati Airin sakit. Pikiran Airin kembali ke peristiwa setahun yang lalu. Hari itu langit begitu gelap tertutup mendung. Begitu kuliah berakhir Airin langsung pulang diantarkan Hata dengan motor. Di tengah perjalanan hujan turun dengan lebatnya. Sesampainya di rumah kos mereka telah basah kuyup oleh guyuran hujan dan mau tak mau Hata harus menunggu sampai hujan reda baru bisa pulang ke rumah.
Airin dan Hata menghabiskan waktu bercerita sambil menikmati secangkir kopi panas. Tak terasa hampir dua jam mereka mengobrol tapi hujan belum juga reda. Diam-diam dalam hati Airin berdo’a agar hujan terus turun sampai beberapa saat lagi.
“Wah hujannya lebat banget kalo kayak gini Mas nggak bisa pulang buat ganti baju dulu” Hata tampak kawatir melihat langit yang masih berselimutkan mendung tebal sepertinya tak ada tanda-tanda hujan akan reda.
“Memangnya Mas mau kemana?” tanya Airin.
“Ada janji sama Vita, sudah dua kali mas ingkar janji jadi hari ini mas nggak bisa kalo nggak dateng” jawab Hata sambil melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Ooohh, Mas mau aku pinjemin jaket aja ta? Biar bisa langsung ketemuan sm Vita kalo pulang dulu takutnya nggak keburu sebentar lagi juga hujannya reda” kata Airin.
“Boleh kalo ada sekalian sama kaos ya Rin hehehe tapi yang agak longgaran bukan yang ukuranmu ntar nggak muat kamu kan mungil” kata Hata sambil mengacak-acak rambut Airin.
“Hooolll, bentar ya aku cariin kayaknya aku ada kaos yang ukurannya besar deh” Airin bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Jadilah Hata memakai kaos dan jaket punya Airin.
Hujan akhirnya reda, Hata pun pamitan pulang. Tiba-tiba Airin menahan tangan Hata.
“Tunggu, aku mau bilang sesuatu sama Mas Hata” Airin menunduk.
“Kenapa rin? Ngomong aja” kata hata sambil menatap mata Airin.
Airin terlihat ragu-ragu lalu dia menarik nafas panjang dan akhirnya terucaplah kalimat itu dari mulut Airin “Aku suka sama Mas, bukan sebagai Adik tapi sebagai wanita. Aku tau mas punya Vita dan aku tidak mengharapkan Mas putus dari Vita tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri kalo aku jatuh cinta sama Mas sejak pertama kita bertemu”.
Hata terpaku medengar pengakuan Airin. Dia hanya terdiam tidak tau harus berkata apa. Lalu terdengar suara Airin memecah keheningan. “Aku sudah bilang apa yang ingin aku ungkapkan selama ini. Mas nggak perlu menjawab apa-apa aku hanya ingin jujur, sudah sana pergi nanti Vita kelamaan nunggu hehehe salam buat Vita ya mas” Airin tersenyum.
“Aku pulang ya Rin, makasih” Hata pun memacu motornya meninggalkan Airin yang melihat kepergiannya dengan tatapan sedih.
“Rin, udah sampai nih” Hata menepuk bahu Airin yang tampak melamun.
“Oh, makasih Mas” Airin melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil.
“Rin tunggu sebentar” Hata mencekal pergelangan tangan Airin. “Aku minta maaf ya Rin” kata Hata, matanya sayu memandang mata Airin.
“Kenapa minta maaf? Mas Hata kan nggak salah apa-apa” kata Airin berusaha bersikap senormal mungkin.
“Aku tau sangat menyakitkan bagimu melihatku bersama orang lain, jujur ini juga berat buatku tapi aku tidak bisa memilih antara kamu dan Vita” raut sedih tampak jelas di wajah Hata.
“Aku tidak pernah meminta Mas untuk memilih. Sejak awal aku tau betapa pentingnya Vita buat mas dan posisiku di hati Mas. Aku tau semuanya jadi aku tak pernah menuntut Mas untuk membalas perasaanku atau memilih” Airin tersenyum. “Tidak semua hal yang kita inginkan di dunia ini akan kita dapatkan, semakin kita menginginkan sesuatu menjadi milik kita maka akan semakin sulit kita mendapatkannya, aku percaya selalu ada hal baik atas setiap peristiwa yang terjadi” lanjut Airin.
“Sampai kapan pun posisimu tak akan pernah tergantikan di hatiku, kau harus tau itu” kata Hata.

“Aku tau, terima kasih, Mas hati-hati nyetirnya, bye” Airin tersenyum lalu keluar dari mobil. Dia terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah mobil hitam yang melaju di telan lebatnya hujan di kota Surabaya.

No comments:

Post a Comment