Hari itu hujan turun
dengan lebatnya seperti tak ada tanda-tanda akan reda dengan cepat. Airin
tampak gelisah menunggu hujan reda, hari semakin gelap dan dia masih terjebak
di kampus karena hujan yang tak kunjung reda. Tak ada pilihan lain dia memilih
hujan-hujanan pulang dari pada menunggu toh rumah kos nya tidak begitu jauh
dari kampus. Ketika Airin bersiap menembus lebatnya hujan tiba-tiba ada
seseorang yang menepuk pundaknya. Airin pun menoleh dan terpaku melihat
sesososk lelaki yang tersenyum kepadanya.
“Mau pulang Rin?
Hujan-hujan begini?” tanya Hata.
“Oh iya mas dari pada
kemaleman nunggu hujan tak kunjung reda” jawab Airin.
“Kamu nggak bawa payung?
Naik apa kamu pulang?” Hata terlihat kawatir.
“Jalan kaki nggak apa-apa
kok mas, kan rumah kos ku deket dari sini jalan lima belas menit juga sampe
hehehe” Airin mencoba tersenyum meyakinkan.
“Mas anter kamu pulang,
lima belis menit itu lama kamu bisa basah kuyup sampe kosan kan hujannya lebat
banget” Hata berjalan menuju parkiran mobil. “Kamu tunggu di sini jangan
kemana-mana” lanjutnya.
“Nggak usah Mas, beneran
deh aku nggak apa-apa kok jalan kaki udah biasa dan kayaknya hujannya juga udah
mulai reda” Airin bersiap pergi tapi Hata menahannya.
“Rin, please kamu bisa
sakit kalo hujan-hujanan begini, kamu kan gampang kena flu kalo kena hujan dan
kedinginan. Mas anterin jangan membantah.”
Mau tak mau Airin pun
menuruti Hata meskipun dengan berhuta perasaan berkecamuk di hatinya.
Di dalam mobil suasana
terasa canggung, Airin tak tau apa yang harus dibicarakan dan dia hanya terdiam
melihat tetes-tetes air hujan yang membasahi jendela mobil. Suara Hata memecah
keheningan “dulu juga hujan lebat banget kayak gini kan Rin?”
“Hmm??,Mas masih ingat
itu sudah setahun yang lalu.” Airin tampak termenung lalu dia melanjutkan
“jaketku masih mas simpan kan? Jangan-jangan udah mas jual tuh jaket hehehe”.
“Masih, mana mungkin aku
menjualnya. Bunda yang menyimpan kata beliau kamu yang harus mengambilnya
sendiri di rumah” Hata menoleh memandang Airin sambil tersenyum.
Entah kenapa melihat
senyum Hata membuat hati Airin sakit. Pikiran Airin kembali ke peristiwa
setahun yang lalu. Hari itu langit begitu gelap tertutup mendung. Begitu kuliah
berakhir Airin langsung pulang diantarkan Hata dengan motor. Di tengah perjalanan
hujan turun dengan lebatnya. Sesampainya di rumah kos mereka telah basah kuyup
oleh guyuran hujan dan mau tak mau Hata harus menunggu sampai hujan reda baru
bisa pulang ke rumah.
Airin dan Hata
menghabiskan waktu bercerita sambil menikmati secangkir kopi panas. Tak terasa
hampir dua jam mereka mengobrol tapi hujan belum juga reda. Diam-diam dalam
hati Airin berdo’a agar hujan terus turun sampai beberapa saat lagi.
“Wah hujannya lebat
banget kalo kayak gini Mas nggak bisa pulang buat ganti baju dulu” Hata tampak
kawatir melihat langit yang masih berselimutkan mendung tebal sepertinya tak
ada tanda-tanda hujan akan reda.
“Memangnya Mas mau
kemana?” tanya Airin.
“Ada janji sama Vita,
sudah dua kali mas ingkar janji jadi hari ini mas nggak bisa kalo nggak dateng”
jawab Hata sambil melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Ooohh, Mas mau aku
pinjemin jaket aja ta? Biar bisa langsung ketemuan sm Vita kalo pulang dulu
takutnya nggak keburu sebentar lagi juga hujannya reda” kata Airin.
“Boleh kalo ada sekalian
sama kaos ya Rin hehehe tapi yang agak longgaran bukan yang ukuranmu ntar nggak
muat kamu kan mungil” kata Hata sambil mengacak-acak rambut Airin.
“Hooolll, bentar ya aku
cariin kayaknya aku ada kaos yang ukurannya besar deh” Airin bangkit dan
berjalan menuju kamarnya. Jadilah Hata memakai kaos dan jaket punya Airin.
Hujan akhirnya reda, Hata
pun pamitan pulang. Tiba-tiba Airin menahan tangan Hata.
“Tunggu, aku mau bilang
sesuatu sama Mas Hata” Airin menunduk.
“Kenapa rin? Ngomong aja”
kata hata sambil menatap mata Airin.
Airin terlihat ragu-ragu
lalu dia menarik nafas panjang dan akhirnya terucaplah kalimat itu dari mulut
Airin “Aku suka sama Mas, bukan sebagai Adik tapi sebagai wanita. Aku tau mas
punya Vita dan aku tidak mengharapkan Mas putus dari Vita tapi aku tidak bisa
membohongi perasaanku sendiri kalo aku jatuh cinta sama Mas sejak pertama kita
bertemu”.
Hata terpaku medengar
pengakuan Airin. Dia hanya terdiam tidak tau harus berkata apa. Lalu terdengar
suara Airin memecah keheningan. “Aku sudah bilang apa yang ingin aku ungkapkan
selama ini. Mas nggak perlu menjawab apa-apa aku hanya ingin jujur, sudah sana
pergi nanti Vita kelamaan nunggu hehehe salam buat Vita ya mas” Airin
tersenyum.
“Aku pulang ya Rin,
makasih” Hata pun memacu motornya meninggalkan Airin yang melihat kepergiannya
dengan tatapan sedih.
“Rin, udah sampai nih”
Hata menepuk bahu Airin yang tampak melamun.
“Oh, makasih Mas” Airin
melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil.
“Rin tunggu sebentar”
Hata mencekal pergelangan tangan Airin. “Aku minta maaf ya Rin” kata Hata,
matanya sayu memandang mata Airin.
“Kenapa minta maaf? Mas
Hata kan nggak salah apa-apa” kata Airin berusaha bersikap senormal mungkin.
“Aku tau sangat
menyakitkan bagimu melihatku bersama orang lain, jujur ini juga berat buatku
tapi aku tidak bisa memilih antara kamu dan Vita” raut sedih tampak jelas di
wajah Hata.
“Aku tidak pernah meminta
Mas untuk memilih. Sejak awal aku tau betapa pentingnya Vita buat mas dan
posisiku di hati Mas. Aku tau semuanya jadi aku tak pernah menuntut Mas untuk
membalas perasaanku atau memilih” Airin tersenyum. “Tidak semua hal yang kita
inginkan di dunia ini akan kita dapatkan, semakin kita menginginkan sesuatu
menjadi milik kita maka akan semakin sulit kita mendapatkannya, aku percaya
selalu ada hal baik atas setiap peristiwa yang terjadi” lanjut Airin.
“Sampai kapan pun
posisimu tak akan pernah tergantikan di hatiku, kau harus tau itu” kata Hata.
“Aku tau, terima kasih,
Mas hati-hati nyetirnya, bye” Airin tersenyum lalu keluar dari mobil. Dia terus
berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah mobil hitam yang melaju di telan
lebatnya hujan di kota Surabaya.
No comments:
Post a Comment