Ternyata perih itu masih ada.
Aku berpikir jika luka itu telah kering, tapi ternyata aku salah.
Luka itu masih basah dan terasa perih.
Lebih dari seribu jam telah aku lewati tanpamu, tak mendengar suaramu atau canda tawamu.
Kukira aku sudah baik - baik saja, ternyata tidak.
Mendengar kabar tentangmu membuatku sakit, tak mendengarpun membuatku kalut.
Tuhan, akan kubawa kemana perasaan ini.
Nyatanya hati ini masih mencintainya dengan begitu dalam.
Meskipun cinta ini berujung luka tapi kenyataan yang ada tak bisa aku pungkiri.
Cintaku padamu masih sangat besar seperti dulu.
Mungkin benar apa kata orang.
Ketika mencintai telah membuat kita buta, bahkan perihnya luka pun akan terasa nikmat.
Hari ini, aku mendengar kabar kau akan menikah dengannya.
Aku tersenyum mendengar kabar itu.
Seolah biasa saja, ikut bahagia.
Tapi mereka tidak tahu.
Di sini, di jantung ini ada luka yang berdarah dan menganga lebar.
Aku menahan air mataku agar tak jatuh.
Karena aku telah berjanji untuk bahagia setelah melepaskanmu.
Memang, aku telah melepaskanmu ke pelukannya.
Tapi hatiku belum merelakannya.
Aku masih terbelenggu oleh kenangan dan masa lalu.
Waktu yang kita lewati bersama dulu memang hanya sebentar.
Bagimu, aku mungkin hanyalah persinggahan sementara pelepas dahaga.
Bukan tempatmu berlabuh.
Tapi tidak begitu bagiku.
Aku pernah menaruh harapan akan cintamu.
Salah memang, tapi hati ini tak mau mendengar seruan pikiranku.
Dia berjalan sendiri dan akhirnya jatuh ke lubang yang gelap.
Aku kira aku sudah berhasil keluar dari lubang itu.
Ternyata aku malah jatuh semakin dalam terhisap oleh pusaran perasaan yang tak pernah hilang.
Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku memohon untuk cintamu agar kembali padaku.
Ataukah aku harus merelakan kepergianmu sesulit apapun itu.
Tolong bantu aku.
Aku sudah menemukan jawabannya.
Tapi terasa sulit bagiku untuk menerimanya.
Hati ini terus tersayat dan kembali terluka.
By : L.A.
Jakarta, 30 Agustus 2017
Teruntuk dirimu yang telah mencapkan cinta begitu dalam di hatiku.
IG : @trianamartasari
Aku berpikir jika luka itu telah kering, tapi ternyata aku salah.
Luka itu masih basah dan terasa perih.
Lebih dari seribu jam telah aku lewati tanpamu, tak mendengar suaramu atau canda tawamu.
Kukira aku sudah baik - baik saja, ternyata tidak.
Mendengar kabar tentangmu membuatku sakit, tak mendengarpun membuatku kalut.
Tuhan, akan kubawa kemana perasaan ini.
Nyatanya hati ini masih mencintainya dengan begitu dalam.
Meskipun cinta ini berujung luka tapi kenyataan yang ada tak bisa aku pungkiri.
Cintaku padamu masih sangat besar seperti dulu.
Mungkin benar apa kata orang.
Ketika mencintai telah membuat kita buta, bahkan perihnya luka pun akan terasa nikmat.
Hari ini, aku mendengar kabar kau akan menikah dengannya.
Aku tersenyum mendengar kabar itu.
Seolah biasa saja, ikut bahagia.
Tapi mereka tidak tahu.
Di sini, di jantung ini ada luka yang berdarah dan menganga lebar.
Aku menahan air mataku agar tak jatuh.
Karena aku telah berjanji untuk bahagia setelah melepaskanmu.
Memang, aku telah melepaskanmu ke pelukannya.
Tapi hatiku belum merelakannya.
Aku masih terbelenggu oleh kenangan dan masa lalu.
Waktu yang kita lewati bersama dulu memang hanya sebentar.
Bagimu, aku mungkin hanyalah persinggahan sementara pelepas dahaga.
Bukan tempatmu berlabuh.
Tapi tidak begitu bagiku.
Aku pernah menaruh harapan akan cintamu.
Salah memang, tapi hati ini tak mau mendengar seruan pikiranku.
Dia berjalan sendiri dan akhirnya jatuh ke lubang yang gelap.
Aku kira aku sudah berhasil keluar dari lubang itu.
Ternyata aku malah jatuh semakin dalam terhisap oleh pusaran perasaan yang tak pernah hilang.
Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku memohon untuk cintamu agar kembali padaku.
Ataukah aku harus merelakan kepergianmu sesulit apapun itu.
Tolong bantu aku.
Aku sudah menemukan jawabannya.
Tapi terasa sulit bagiku untuk menerimanya.
Hati ini terus tersayat dan kembali terluka.
By : L.A.
Jakarta, 30 Agustus 2017
Teruntuk dirimu yang telah mencapkan cinta begitu dalam di hatiku.
IG : @trianamartasari
No comments:
Post a Comment