Selamat pagi An,
Sapa lembutmu setiap pagi
Seperti mentari kamu tak pernah ingkar memberi kehangatan
Namun, semenjak kau pergi
Aku tak lagi menyukai pagi
Aku tak lagi menanti rona jingga di ufuk timur mengikis bulir - bulir embun yang tersisa di rerumputan
Masihkah kau ingat sayang?
Saat - saat bahagia yang kita lalui bersama
Meski terpisah jarak namun hati selalu dekat
Aku bisa mendengar suaramu kapanpun aku mau
Masihkah kau ingat sayang?
Rayu manjamu di setiap malam mengantarku dalam lelap
Terlalu banyak hal manis yang kau berikan
Hingga kehilanganmu begitu menyesakkan
Apakah sekarang kamu bahagia dengannya?
Aku harap begitu
Karena jika kamu tak bahagia, di sini akan ada hati yang semakin terluka
Sapa lembutmu setiap pagi
Seperti mentari kamu tak pernah ingkar memberi kehangatan
Namun, semenjak kau pergi
Aku tak lagi menyukai pagi
Aku tak lagi menanti rona jingga di ufuk timur mengikis bulir - bulir embun yang tersisa di rerumputan
Masihkah kau ingat sayang?
Saat - saat bahagia yang kita lalui bersama
Meski terpisah jarak namun hati selalu dekat
Aku bisa mendengar suaramu kapanpun aku mau
Masihkah kau ingat sayang?
Rayu manjamu di setiap malam mengantarku dalam lelap
Terlalu banyak hal manis yang kau berikan
Hingga kehilanganmu begitu menyesakkan
Apakah sekarang kamu bahagia dengannya?
Aku harap begitu
Karena jika kamu tak bahagia, di sini akan ada hati yang semakin terluka
Jakarta, 6 September 2017
Oleh : Triana Martasari
IG : @trianamartasari
Oleh : Triana Martasari
IG : @trianamartasari
No comments:
Post a Comment