Friday, December 8, 2017

Putri Hujan dan Raja Senja

“Halo Putri” terdengar suara lelaki menyapa membuat gadis itu terlonjak. Di depannya telah berdiri seorang lelaki yang berusia sepuluh tahun lebih tua darinya. Lelaki itu menjulang tinggi, dengan manik mata cokelat tua dan tatapan setajam elang namun berkesan hangat. Rahangnya kuat dan bibirnya terlihat seksi dan manis ketika tersenyum. Gadis itu masih terpana pada sosok lelaki di hadapannya. Kulitnya kecoklatan seperti terbakar matahari. Otot lengannya tampak menonjol di balik kemeja putih yang lengannya dia gulung sampai ke siku. Lelaki itu tampak tersenyum simpul melihat gadis di hadapannya memperhatikan dirinya dengan seksama seolah tak ingin ada yang terlewatkan.
Sadar telah bertindak bodoh, gadis itu lantas memalingkan wajah. Lelaki itu duduk di sebelahnya.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya lelaki itu lagi.
“Melihat hujan” gadis itu menunjuk rintik hujan yang tak kunjung reda membuat jalanan becek karena tergenang air yang gagal masuk gorong-gorong karena tersumbat sampah.
“Ah, kamu selalu suka hujan. Tidak pernah berubah.” Dia tersenyum. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
“Kak Raja masih suka senja?” tanya Putri tiba-tiba.
“Tidak lagi.” Jawab Raja pendek.
“Kenapa? Bukankah kakak selalu menyukai senja. Dulu sewaktu kita kecil kakak selalu mengajakku melihat senja ketika pulang mengaji.” Putri tampak heran dengan jawaban Raja.
“Orang bisa berubah bukan?” Raja tersenyum dan mengacak rambut gadis di sampingnya pelan. Putri menggerutu karena kebiasaan Raja yang satu itu tidak pernah berubah sejak dulu.
“Minggu depan kamu ulang tahun. Mau kakak kasih kado apa?” tanya Raja memecah kesunyian. Putri menggelengkan kepalanya, matanya masih asik menyaksikan hujan yang turun semakin deras. Kilat-kilat petir tampak sesekali membuat suasana di sekitar mereka terang benderang. Langit masih gelap dengam awan yang bergulung. Sepertinya hujan masih akan lama turun.
“Kamu gak mau kado?” Raja mengeryit heran.
“Yap” Putri mengangguk mantap.
“Nggak nyesel, ini ulang tahun ke tujuh belas loh sekaligus kamu lulus SMA. Tidak setiap hari loh kamu tujuh belas tahun.” Raja mencoba mengubah pikiran Putri.
“Kalo gitu kadonya diganti aja boleh ga?” tanya Putri tampak antusias.
“Mau diganti apa?” Raja tampak penasaran.
“Aku mau satu hari itu Kak Raja nurutin semua keinginanku.”
“Semua? Tanpa terkecuali?”
Putri mengangguk pasti.
“Yah, kalo gitu gak enak di kakak dong” Raja mengeluh.
“Gimana sih katanya ini aku gak berumur tujuh belas tahun setiap hari.” Putri tampak merajuk.
“Iya deh iya, jangan ngambek dong” dengan berat hati Raja mengiayakan demi melihat gadis itu tersenyum.
“Janji?” Mata Putri tampak berbinar, senyum lebar menghiasi bibirnya. Jari kelingkingnya terulur.
“Hahaha iya.” Raja tergelak melihat tingkah gadis itu yang manja. Mereka pun melakukan janji kelingking.
Hari ulang tahun ke tujuh belas Putri.
Setelah acara syukuran kecil dengan keluarga selesai. Putri dan Raja tampak menikmati waktu sore di teras di samping rumah. Udara terasa segar sisa diguyur hujan. Senjapun tampak lebih indah dari biasanya. Warna jingganya tidak semeroba biasanya namun lebih hangat dan indah. Mungkin awan gelap yang telah menyingkir membuat senja tampah lebih berkilau.
“Indah ya kak.” Putri menatap senja dengan takjub. Meskipun dia sangat menyukai hujan namun baginya senja tidak pernah mengecewakan. Raja hanya tersenyum. Matanya juga tampak terpukau menatap senja yang begitu elok.
“Sekarang aku mau nagih janji kak Raja.”
“Boleh” Raja mengangguk.
“Aku mau kakak cerita sama aku. Kenapa kakak tidak menyukai senja lagi?” tanya Putri penasaran.
“Put, harus ya kakak jawab pertanyaan putri. Yang aja deh pasti kakak kasih ke kamu.” Pinta Raja memelas.
“Enggak, aku mau kakak jujur” Putri bersikeras. Raja tampak ragu-ragu lantas menghembuskan nafas pasrah. Putri masih menunggu lelaki itu bercerita. Lima menit berlalu, Raja masih bisu. Putri merasa kesal, diapun beranjak pergi namun Raja menahan langkahnya. Tangannya menggenggam erat tangan gadis tujuh belas tahun itu.
“Kakak akan cerita, kamu duduk ya.” Gadis itu urung merajuk dan kembali duduk. Raja tidak melepaskan tangan putri dari genggamannya.
“Dua tahun yang lalu, ketika kakak tengah menikmati senja setelah menghabiskan hari dengan berselancar hati kakak patah.” Gadis itu mendengar cerita Raja dalam diam.
“Gadis kecil yang selalu kakak cintai dan lindungi ternyata telah tumbuh menjadi seorang remaja yang cantik dan ceria. Laksana bunga mawar yang mekar, banyak kumbang yang mengerumuninya. Meski bagi mereka dia seperti mawar namun bagiku dia seperti bunga matahari. Selamanya dia akan menjadi senja kakak.” Raja menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Perasaannya campur aduk.
“Usiaku dan dia terentang sangat jauh. Ketika dia menginjak usia ABG, kakak sadar kalau dunia kami berdua sangat berbeda. Dunia kakak berada adalah dunia yang menuntut kakak akan arti sebuah tanggung jawab. Tidak sepantasnya kakak menggantungkan impian kakak pada gadis itu. Dia berhak bahagia dengan remaja seusianya.”
“Lambat laun, kami semakin jauh seolah ada jarak tak kasat mata yang membentang di antara kami. Kakak sadar kalau kakak tidak bisa terus begini. Pada akhirnya kakak memilih pergi. Bukan kakak tidak menyukai bunga matahari kakak. Bukan kakak mencampakkan senja. Kakak hanya ingin menikmati dan menjaganya dari jauh. Karena senja hanya akan indah jika dilihat dari jauh.” Raja mengakhiri ceritanya. Matanya sendu menatap gadis yang duduk di sampingnya itu. Tangannya masih menggenggam erat jemari Putri.
“Siapa gadis yang beruntung itu kak?” tanya Putri dengan suara bergetar. Dia merasa bahwa gadis yang dimaksud oleh Raja adalah dia namun tidak mau banyak berharap. Selama ini dia selalu memendam perasaannya.
“Gadis itu selalu memandang hujan dengan takjub seolah hujan adalah sebuah fenomena paling indah yang pernah terjadi di dunia ini. Gadis itu kamu Putri.” Raja mengakui perasaannya yang selama ini terpendam.
Putri tampak terpana mendengar pengakuan lelaki yang diam-diam sangat dia cintai. Hatinya bersorak namun dia tertunduk malu tidak tahu harus bicara apa.
“Put” Raja memanggil lembut nama gadis itu. Tangannya menyentuh dagu Putri memaksa memandang matanya. Putri mendongak, ada rona merah di pipinya.
“Apa ini mimpi?” tanyanya polos. Raja tersenyum dan menggeleng.
“Kakak tahu kenapa aku suka hujan?” tanya Putri kemudian. Raja menggeleng karena dia memang tidak pernah tahu apa alasan gadis itu menyukai hujan.
“Karena kita dipertemukan ketika hujan sedang turun dengan derasnya. Sepuluh tahun yang lalu, saat aku bingung karena tidak punya payung sedangkan Ibu tidak kunjung menjemput. Kakak mendekatiku dan mengantar aku pulang ke rumah dengan selamat. Ternyata kakak adalah tetangga baru di sebelah rumah. Sejak itu aku selalu menyukai hujan. Karena hujan mengingatkan aku pada kakak.” Putri mengakhiri ceritanya. Wajahnya benar-benar merah padam bahkan lebih merah dari senja yang merona.
Raja sangat bahagia mendengar pengakuan Putri. Rupanya cinta yang selama ini dia coba sembunyikan tidak bertepuk sebelah tangan. Sepuluh tahun rentang umur tidak menjadi penghalang cinta mereka. Raja memeluk erat dan mencium kening Putri dengan lembut.
“Happy sweet seventeen Gadis senjaku. I love you.” Raja mengucap cinta dengan tulus.
“I love you too my rain.” bisik Putri bahagia dalam dekapan Raja.
“Kamu benar-benar merona seperti senja.” Raja tertawa lebar membuat wajah Putri semakin memerah seperti senja sore itu.
Tamat

Karya : Ana (Keluarga Mediaberkarya)

No comments:

Post a Comment